OTOMOTIF
Mobil
Gagal Terbang! Startup Mobil Terbang Hyundai PHK 80 Persen Karyawan
Tim Redaksi
04 Mar 2026 22:27
4,866 kali
Gambar Ilustrasi
Juru bicara Supernal menyatakan bahwa keputusan sulit ini merupakan bagian dari perubahan strategis jangka panjang. "Keputusan ini merupakan perubahan strategis untuk memastikan struktur kepegawaian dan biaya kami dioptimalkan untuk pengiriman jangka panjang desain pesawat kami yang selaras dengan pasar," ujar juru bicara perusahaan seperti dikutip dari autoblog.com.
FolksInsight.com - Mimpi menghadirkan mobil terbang ke pasar harus menelan pil pahit. Supernal, perusahaan rintisan (startup) kendaraan listrik terbang milik Hyundai Motor Group yang berbasis di Amerika Serikat, mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal terhadap 80 persen karyawannya. Langkah drastis ini diambil sebagai bagian dari restrukturisasi besar-besaran yang dilakukan perusahaan akibat berbagai tantangan teknis dan finansial.
Supernal merumahkan sebanyak 296 pekerja dari total tenaga kerjanya yang tersebar di fasilitas Orange County, Fremont, dan Mojave. Setelah pemangkasan ini, startup yang sebelumnya memiliki valuasi mencapai Rp28,7 triliun tersebut kini hanya menyisakan kurang dari 80 karyawan. Perusahaan berencana mengintegrasikan sisa operasionalnya ke kantor pusat di Irvine, California.
Juru bicara Supernal menyatakan bahwa keputusan sulit ini merupakan bagian dari perubahan strategis jangka panjang. "Keputusan ini merupakan perubahan strategis untuk memastikan struktur kepegawaian dan biaya kami dioptimalkan untuk pengiriman jangka panjang desain pesawat kami yang selaras dengan pasar," ujar juru bicara perusahaan seperti dikutip dari autoblog.com.
Pihak manajemen membantah bahwa PHK massal ini akan mengganggu pengembangan teknologi kendaraan listrik terbang. Mereka menegaskan bahwa Hyundai Motor Group tetap berkomitpenuh pada bisnis Advanced Air Mobility (AAM) sebagai bagian dari visi mobilitas masa depan. "Supernal akan terus berfungsi sebagai lengan pelaksana AAM khusus grup untuk pengembangan pesawat," jelasnya.
Namun di balik pernyataan optimistis tersebut, Supernal ternyata baru saja mengalami kegagalan dalam uji coba penerbangan pesawat eVTOL (electric Vertical Take-Off and Landing) otonomnya di Mojave. Pesawat konsep bernama S-A2 eVTOL yang dirancang mampu lepas landas dan mendarat secara vertikal ini gagal mendemonstrasikan teknologi terbang otonomnya. Akibatnya, perusahaan harus menghentikan pengembangan proyek tersebut pada September 2025 lalu.
Supernal tidak sendirian dalam mengalami kesulitan ini. Beberapa perusahaan lain yang juga berinvestasi besar di teknologi eVTOL mengalami nasib serupa. Anak perusahaan Airbus dan Textron telah menghentikan upaya pengembangan eVTOL dalam beberapa bulan terakhir dengan alasan keuangan dan keterbatasan teknologi yang serupa.
Kondisi ini mencerminkan tantangan berat yang dihadapi sektor otomotif global saat ini. Penurunan penjualan mobil listrik secara umum memaksa banyak perusahaan melakukan efisiensi besar-besaran. Gelombang PHK menjadi kenyataan yang sulit dihindari, tidak hanya di Supernal. Lucid Motors baru saja mengumumkan pengurangan 12 persen tenaga kerja globalnya bulan lalu, sementara General Motors memberhentikan lebih dari 1.100 pekerja di dua pabrik utamanya pada Januari tahun ini. Mimpi mobil terbang sepertinya masih harus menunggu lebih lama lagi untuk menjadi kenyataan.