TOKOH
Profil
Sony Novian: Membawa Bahasa Indonesia ke Panggung Dunia
Oleh: Tim Redaksi
Dipublikasi:
15 Nov 2025 16:39 WIB
Dilihat: 623 kali
Foto: Sony Novian
Nama Sony Novian kian diperhitungkan dalam percaturan industri bahasa di Indonesia.
Jakarta 15/11/2025 – Di balik layar konferensi internasional, rapat diplomatik, hingga kerja sama bisnis lintas negara, ada satu hal yang sering terlupakan: bahasa. Dan di situlah seorang Sony Novian membangun jalan hidupnya.
Sony bukan hanya pengusaha. Ia adalah Co-Founder Katagonia, platform layanan bahasa yang menangani penerjemahan legal hingga konferensi internasional. Ia juga memimpin dua organisasi penting: Ketua umum IKASA (Ikatan Agensi Jasa Bahasa) dan Ketua DPC HIPPI Jakarta Barat, yang menaungi pengusaha pribumi di kota metropolitan.
Namun perjalanan Sony tidak dimulai dari ruang rapat megah. Ia memulainya dari kegelisahan sederhana: mengapa di negeri dengan ratusan juta penduduk, kebutuhan interpreter profesional justru dipenuhi tenaga asing?
“Orang tidak sadar, bahasa itu mata uang. Tanpa bahasa yang benar, kontrak bisa tak sah, kerja sama bisa gagal. Saya ingin Indonesia punya standar sendiri,” ujarnya.
Selama bertahun-tahun, Sony bekerja sama dengan penerjemah tersumpah resmi Kemenkumham untuk memastikan dokumen legal tepat, akurat, dan sah secara hukum. Tapi itu belum cukup. Ia melihat celah besar di sektor juru bahasa (interpreter) simultan dan konsekutif, profesi yang sangat dibutuhkan dalam forum internasional — namun belum memiliki sistem sertifikasi nasional.
Dan di sinilah sisi idealisnya muncul.
Melalui IKASA, Sony mengadvokasi standarisasi kompetensi interpreter hingga ke tingkat BNSP. Ia bahkan menggugat Pasal 31 ayat (1) UU Bahasa dan Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata ke Mahkamah Konstitusi agar definisi penggunaan bahasa dalam perjanjian tidak lagi menghambat dunia usaha, namun tetap melindungi marwah bahasa Indonesia.
“Saya bukan menggugat bahasa Indonesia. Saya membela bahasa Indonesia. Saya ingin bahasa kita dihormati di atas kertas, bukan sekadar di pidato,” tuturnya.
Sony juga percaya bahwa bahasa adalah masa depan karier anak muda.
“Kalau anak muda tahu betapa besarnya industri bahasa—mulai dari penerjemahan dokumen, film, konferensi, hingga artificial intelligence—mereka tidak akan menganggap profesi ini ‘pelengkap’,” katanya sambil tersenyum.
Di usianya yang masih relatif muda, Sony telah berdiri di persimpangan bisnis, kebijakan, dan advokasi profesi. Ia bukan hanya membangun perusahaan, ia sedang membangun ekosistem—agar bahasa Indonesia dan profesi para ahlinya tidak lagi dipandang sebelah mata.
Karena baginya, bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa adalah identitas, investasi, dan kekuatan bangsa.

Sony Novian Menghadiri Sidang MK